Sahabat Bisnis, Setiap orang berhak menentukan Bisnis atau usaha yang mereka lakukan.Dari bisnis kecil-kecilan bahkan yang relatif besar.Seperti yang Sahabat bisnis yang satu ini Namanya Wahyu Adjisetiawan .
Sulitnya merintis usaha tak menyurutkan tekad Wahyu
Adjisetiawan menjadi seorang pengusaha sukses. Bermodal hanya Rp 5 juta, Wahyu
menekuni bisnis tas hingga kini mampu meraup omzet hingga miliaran rupiah.
Ia memulai bisnisnya sejak di bangku kuliah, motivasi
berbisnis kala itu pun sederhana. Wahyu tak pernah berpikir menjadi pengusaha
dengan omzet miliaran rupiah.
"Hanya ingin punya uang tambahan. Karena teman-teman
punya uang sendiri
dari bekerja sampingan, hanya saya yang nggak punya waktu
itu," tutur Wahyu , saat di wawancara Dana adityasari /detikfinance.
Sebagai wirausahawan muda, pria plontos ini menetapkan
produk tas sebagai produk yang ditekuninya. Alasannya karena bagian dari
strategi bisnisnya yang mengedepankan efisiensi produksi.
Usahanya ini pun mulai menggeliat, ketika pada 2007 seorang dosen menantangnya dengan proyek pengadaan 400 buah tas seminar, dan harus dipenuhi dalam hitungan hari.
Ia mengaku belum pernah punya pengalaman memproduksi tas
dalam skala besar. Namun kepalang tanggung sudah menyanggupi tantangan
tersebut, Wahyu memutar otak.
Berkat ketekunannnya, jalan pun terbuka, alumni Manajemen
Marketing dari Universitas Negeri Surabaya ini mendapat order 5.000 buah tas,
dari sebuah perusahaan dagang berbasis di Singapura, yang ditemuinya dalam
sebuah ajang pameran wirausaha internasional di 2011.
Order dari luar negeri ini tentu melihat kualitas produk tas
miliknya yang tak kalah saing dengan produk lain. "Kalau orang luar beli
tas lihat kualitasnya," katanya.
Pengiriman untuk kontrak senilai Rp 5 miliar itu pun
dimulai, separuh jumlah tas yang dipesan telah dipenuhi dan laris manis di
pasar Singapura.
Namun sial tak bisa diduga, usahanya kembali mengalami
kendala. Merek tas yang digunakannya digugat oleh perusahaan tas asal Spanyol
dengan merek dagang yang sama, 'Ortiz'.
Masalah paten merek menjadi kendala utamanya. "Namanya
juga waktu itu kita masih lugu. Lagi pula dulu internet belum ada. Mana kita
tahu ada perusahaan Spanyol punya merek sama dan mereka sudah punya paten
sedangkan kita belum punya," katanya.
Alhasili, separuh tas yang kirimkan tersebut terpaksa
dikembalikan dan Wahyu harus menelan pil pahit, karena harus membayar denda
akibat tidak terpenuhinya order 5.000 tas tersebut.
"Kalau bahasa bisnis itu potential loss. Saya harus
bayar ke mereka Rp 600 juta karena saya gagal memenuhi target 5.000 tas yang
mereka pesan," katanya.
Ini adalah kebangkrutan terbesar yang pernah dialaminya.
Namun sebagai pengusaha, ketika ada masalah harus dihadapi dan tidak boleh
menyerah. Wahyu pernah bernegosiasi dengan pemilik toko yang memesan tas
miliknya untuk menunda waktu pengiriman dengan merek dagang yang baru.
"Untungnya mereka mengerti dan menyetujui,"
katanya.
Tas-tas yang dikembalikan kemudian diberi logo mereknya dan
dijual dengan harga pokok produksi. Uang yang diperoleh dijadikannya modal lagi
untuk memproduksi tas dengan merek dagang yang baru, 'Evrawood'.
Dengan ciri khas logo kepala rusa dibalut lingkaran solid
dipadu tulisan 'EVRAWOOD Genuine Product' produk tas yang berbasis di Surabaya
ini mulai diproduksi dalam jumlah besar untuk memenuhi target pesanan ke
Singapura yang sempat tertunda.
Selain Singapura, Evrawood, kini sudah merambah pasar
mancanegara seperti Belanda, Inggris, Italia, Jerman, Swedia serta Singapura,
dan Malaysia.
Pria kelahiran 10 maret 1986 ini cukup percaya diri
mengklaim produknya setara dengan berbagai merek-merek tas ternama dunia
seperti Braun Buffel, Camel Active, Kipling, Lee Cooper, Hush Puppies, Elle.
"Keunggulan kita, kita kasih garansi 3 tahun,"
kata Wahyu
Dalam setahun, ia mengaku bisa memproduksi hingga 8.000 tas
yang 70% untuk memenuhi permintaan ekspor dengan menggandeng distributor di
Eropa, Singapura, dan Malaysia.
"Semula 100% untuk ekspor, sekarang 30% kita alokasi
untuk lokal karena sekarang kan masyarakat kita mulai terbuka, kualitas itu
lebih utama ketimbang merek. Jadi saya mulai berani jual di dalam negeri,"
katanya.
Ia mengaku malu mengungkapkan omzet lantaran masih belum
setara dengan merek ternama lainnya. Namun, dengan penjualan tas yang
dibanderol dengan kisaran Rp 490.000 hingga Rp 2,5 juta, omzet yang dikantongi
hingga miliaran rupiah per tahun.
"Di atas Rp 1 miliar di bawah Rp 5 miliar,” katanya
malu-malu.
Dari bisnis tasnya, pria yang tahun ini menginjak usia 29
tahun ini sudah bisa memiliki rumah dan mobil sendiri. Tak terbayang bila saat
kuliahnya, Wahyu menerima bekerja paruh waktu dan menyiakan kesempatan
suksesnya lebih awal.
Selain sukses, pria tinggi putih ini juga berhasil membagi
kesuksesannya kepada orang lain. Saat ini ia telah mempekerjakan 11 orang
karyawan tetap dan 30 orang pekerja tak tetap.
Keberhasilannya ini diganjar buah manis dengan dinobatkan
sebagai juara pertama dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri 2014 kelompok alumni
dan pascasarjana untuk kategori industri kreatif yang diselenggarakan PT Bank
Mandiri Tbk, pekan lalu.






No comments:
Write comments