Thursday, 19 March 2015

Ekonomi Tiongkok & Rupiah Melemah

Di tengah kisruh Ahok vs Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta hingga perdebatan soal warna gaun (biru-hitam vs putih-emas), mungkin Anda tidak menyadari bahwa proses depresiasi rupiah kita  baru saja membawa nilai tukarnya terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) mencapai Rp. 13.000/USD. Inilah titik terendah nilai tukar rupiah dalam 17 tahun terakhir.

Salah satu penyebab dari situasi di atas menurut Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro adalah proyeksi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

"Memang kondisi hari ini ada proyeksi yang negatif terhadap pertumbuhan Tiongkok, jadi mata uang negara-negara yang punya kaitan dengan Tiongkok yang besar termasuk Indonesia ya melemah” Demikian ungkapnya.


Apa yang sebenarnya sedang terjadi di negeri tirai bambu? Mari kita periksa.Potong Suku Bunga Tiba-Tiba Di luar estimasi pasar, Bank Sentral Tiongkok akhir pekan lalu memotong suku bunga acuan mereka sebesar 25 basis poin. Sejumlah analis dan ekonom berpendapat bahwa manuver ini muncul lebih dini dari yang mereka duga sebelumnya.

Mengapa hal ini harus dilakukan? Karena perekonomian Tiongkok memang sedang melambat. Setelah tumbuh hanya 7,4% pada tahun 2014 yang lalu (titik terendah dalam hampir seperempat abad terakhir), angka pertumbuhan ekonomi yang realistis bagi Tiongkok tahun ini diperkirakan hanya sebesar 7%. Sebagai akibatnya industri manufaktur mereka lesu, real borrowing cost meningkat dan permintaan pasar menurun.

Dalam situasi seperti ini, memotong tingkat suku bunga acuan memang menjadi opsi yang logis bagi Xi Jinping dan tim ekonominya. Seperti pernah kami ulas dalam artikel Suku Bunga BI dan Laju Inflasi, Seni Mengelola Pedang Bermata Dua, kenaikan suku bunga akan menjadi disinsentif bagi seseorang untuk menabungkan uangnya dan di sisi lain insentif untuk mengajukan permohonan kredit. Kalau rencana ini berjalan mulus, akan ada lebih banyak uang yang beredar di pasar sebagai bahan bakar bagi Tiongkok untuk kembali menggenjot mesin perekonomiannya.

Lalu Mengapa Rupiah Melemah?

Sebetulnya tidak hanya rupiah, tapi juga negara-negara lain yang perekonomiannya terkoneksi dengan Tiongkok. Ringgit misalnya seperti dijelaskan dalam artikel berikut ini juga tengah mengalami nasib yang sama.

Pada intinya, ketika perekonomian terbesar kedua di dunia diprediksi tumbuh negatif, tidak tersedia terlalu banyak pilihan bagi investor selain berpaling ke yang terbesar yaitu Amerika Serikat. Di titik ini, permintaan terhadap USD kemudian meningkat (di Tiongkok ini dibuktikan dengan pelemahan Yuan terhadap USD seperti dapat Anda baca di sini). Bagaimana cara orang-orang yang menginginkan USD ini kemudian mendapatkannya? Di Indonesia, salah satu yang paling sederhana adalah menukarnya dengan rupiah. Selanjutnya, hukum dasar ekonomi tentang permintaan dan penawaran dengan segera membuat rupiah melemah terhadap USD.

Apa Sudah Waktunya Untuk Khawatir?

Seperti pernah kami ulas sebelumnya (baca: Rupiah Melemah, Jangan (Dulu) Gelisah), terlalu dini dan berlebihan untuk menarik kesimpulan bahwa perekonomian kita sudah ada di ambang krisis seperti pada tahun 1998 dan 2008. Namun demikian menjadi semakin urgen sekarang bagi pemerintah dan Bank Sentral kita untuk meningkatkan kewaspadaan.



( Irfandi / Beraniberbisnis.com)
*Sumber:selarah.com

Irfandi (Penulis)
TENTANG PENULIS:

TERIMA KASIH Sahabat Bisnis Telah Berkunjung Di Website Kami, Semoga Artikel ini Bisa Bermanfaat Untuk Sahabat Bisnis Semua - Bila Artikel Di Atas Bermanfaat Sedianya Untuk Bisa Share Ke yang lainnya " Terima Kasih " SALAM SUKSES

No comments:
Write comments